LULUSAN PERGURUAN TINGGI TIDAK MEMILIKI KOMPETENSI SEBAGAI BANKIR PROFESIONAL

February 17th, 2013 by admin

LULUSAN PERGURUAN TINGGI TIDAK MEMILIKI KOMPETENSI SEBAGAI BANKIR PROFESIONAL

Oleh : SURYONO EKOTAMA

Pertumbuhan industry perbankan akhir-akhir ini seharusnya diikuti dengan pertumbuhan kualitas sumber daya manusia yang akan bekerja di sektor perbankan. Hal ini dapat dimaklumi mengingat sektor perbankan merupakan sektor jasa yang mengandalkan sumber daya manusia sebagai ujung tombak operasional usahanya. Namun kenyataan yang terjadi justru bertolak belakang. Banyaknya pengangguran terdidik di Indonesia tidak menjamin tersedianya stok sumber daya manusia yang cukup untuk berkarir dalam bidang perbankan.

Fakta menunjukkan:

  1. Banyaknya lowongan kerja dari perusahaan perbankan di media cetak maupun media elektronik membuktikan bahwa perusahaan perbankan membutuhkan bankir-bankir professional. Jika kita cermati, ada beberapa lowongan yang dibuka terus menerus untuk posisi yang sama, dalam kurun waktu tertentu. Artinya, sumber daya manusia yang tersedia tidak cukup untuk memenuhi lowongan tersebut. Jika kita cermati lebih jauh, bisa jadi kebutuhannya tinggi sedangkan stok yang tersedia rendah. Atau stok yang tersedia cukup namun tidak dapat memenuhi kualifikasi standar perbankan, sehingga memaksa perusahaan perbankan harus membuka lowongan ulang.

  2. Munculnya praktik outsourcing untuk level operasional perbankan dapat dimaknai dua hal. Yang pertama, perusahaan perbankan terlalu lelah untuk mencari sumber daya manusia berkualitas yang dibutuhkannya, sehingga terjadi pemborosan waktu, tenaga dan biaya serta memaksa perusahaan tersebut menggunakan jasa outsourcing yang siap pakai. Yang kedua, kandidat bankir yang berhasil direkrut tidak memiliki ketrampilan standar perbankan yang diwajibkan, sehingga mengharuskan perusahaan perbankan menyelenggarakan training atau pendidikan karyawan. Namun mengingat training ini hasilnya fifty-fifty dan cenderung memboroskan biaya dan termasuk dalam kegiatan yang bersifat cost center, maka perusahaan perbankan memilih menggunakan jasa outsourcing yang kemampuan SDM-nya dapat dipertanggungjawabkan.

  3. Banyaknya lulusan perguruan tinggi yang berminat bekerja di perusahaan perbankan namun gagal di seleksi pertama (seleksi administrasi), seleksi kedua (interview) atau seleksi ketiga (psikologi), menunjukkan bahwa kualitas lulusan perguruan tinggi yang bersangkutan tidak mampu memenuhi standar kualitas yang ditetapkan perusahaan perbankan. Penulis seringkali menjumpai lulusan S1 atau S2 yang pada saat interview tidak dapat menjawab pertanyaan yang paling sederhana dengan tepat, padahal prestasi akademiknya mumpuni. Perusahaan perbankan tidak mungkin menurunkan standar kualitas rekrutmen hanya dengan mempertimbangkan tingginya prestasi akademik kandidat, sehingga kandidat-kandidat seperti ini biasanya langsung masuk kotak.

Fakta diatas dapat dipandang sebagai suatu hambatan atau tantangan, tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Jika kita melihat dari sudut birokrasi dan akademisi, maka sulitnya lulusan perguruan tinggi terserap dalam dunia perbankan dapat dipandang sebagai suatu kegagalan sistem pendidikan dalam memberikan bekal kepada peserta didik untuk meningkatkan derajat kehidupannya. Otomatis hal ini akan menghambat terwujudnya kesejahteraan rakyat yang merupakan amanat UUD 1945 dan Pancasila. Sedangkan jika kita melihat dari sudut pandang praktisi, maka fakta diatas menghadirkan peluang baru, yakni tantangan untuk memberikan ketrampilan khusus kepada lulusan perguruan tinggi agar mampu memenuhi standar ketrampilan minimal yang diinginkan perusahaan perbankan.

Tentu saja tantangan ini tidak mudah diwujudkan. Perusahaan perbankan itu tumbuh dinamis, berkembang dari waktu ke waktu. Sedangkan pendidikan rata-rata bersifat statis, mengajarkan teori yang sudah kuno. Oleh karena itu, tantangan utamanya adalah menghadirkan sistem training yang dinamis, sesuai dengan kebutuhan bisnis perbankan saat ini dan kedepan. Keberanian para praktisi perbankan yang mendirikan BANKERS INSTITUTE untuk menjawab tantangan ini patut diapresiasi sebagai langkah nyata memajukan bangsanya.

Semoga langkah nyata ini mendapatkan dukungan pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia. Sehingga tidak ada cerita, tujuan mulia para pendiri BANKERS INSTITUTE ini dihambat oleh urusan birokrasi yang njlimet bin ruwet dan sangat tidak perlu. Bangsa-bangsa lain di Asia Tenggara sudah bangkit dan menjadi kekuatan ekonomi baru di dunia. Bangsa Indonesia melalui BANKERS INSTITUTE ini pun akan menjadi kekuatan ekonomi baru khususnya di sektor perbankan. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui…!